Beranda / Pendidikan / Karya Peneliti Bali, Teknologi AI Ini Dirancang Deteksi Kelelahan Operator Pelabuhan dalam Hitungan Detik

Karya Peneliti Bali, Teknologi AI Ini Dirancang Deteksi Kelelahan Operator Pelabuhan dalam Hitungan Detik

DENPASAR — Risiko kecelakaan pelayaran akibat kelelahan operator menjadi salah satu tantangan yang perlu diantisipasi melalui pemanfaatan teknologi. Menjawab kebutuhan tersebut, dosen Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia (INSTIKI), Dr. Ir. I Putu Agus Eka Darma Udayana, S.Kom., M.T., IPM., berhasil memperoleh hibah penelitian kompetitif dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun anggaran 2026 melalui skema Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM).

Bersama tim peneliti yang berkolaborasi dengan Prof. Dr. Ir. Made Sudarma, MASc., IPU., ASEAN Eng. dan Dr. Ir. I Wayan Agus Surya Darma, S.Kom., M.T., riset tersebut mengusung judul “Penerapan Sistem Deteksi Kelelahan Visual Multimodal DFA-Net Berbasis EEG dan Citra Wajah untuk KSOP Celukan Bawang”. Penelitian ini diarahkan untuk mengembangkan sistem pendeteksi kelelahan operator secara dini melalui perpaduan kecerdasan buatan, sinyal aktivitas otak, dan analisis citra wajah.

Inovasi tersebut menyasar kebutuhan keselamatan kerja di sektor maritim, khususnya bagi petugas pemantau lalu lintas laut di lingkungan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Celukan Bawang, Kabupaten Buleleng, Bali. Petugas yang bekerja dalam durasi panjang, terutama pada giliran kerja malam, menghadapi risiko kelelahan dan penurunan kewaspadaan yang dapat memengaruhi konsentrasi saat menjalankan tugas.

Selama ini, pengamatan terhadap kondisi kelelahan operator masih menghadapi keterbatasan apabila hanya mengandalkan penilaian subjektif. Karena itu, sistem DFA-Net dikembangkan untuk membantu mengenali perubahan kondisi operator secara lebih objektif sehingga peringatan dapat diberikan sebelum kelelahan berkembang menjadi risiko keselamatan.

Teknologi ini menggabungkan dua sumber data utama. Pertama, sinyal electroencephalography (EEG) yang digunakan untuk membaca aktivitas listrik otak melalui perangkat headband. Kedua, citra wajah dari kamera yang menganalisis sejumlah indikator, seperti durasi mata tertutup, tingkat bukaan mata, dan frekuensi menguap.

Kedua sumber data tersebut diproses secara multimodal oleh model kecerdasan buatan DFA-Net. Pendekatan ini dirancang agar sistem tetap dapat memanfaatkan data yang tersedia ketika salah satu sumber mengalami gangguan. Hasil analisis kemudian digunakan untuk mengklasifikasikan kondisi operator ke dalam tiga kategori, yakni sadar, lelah, dan microsleep atau tidur singkat yang terjadi tanpa disadari.

Sistem dirancang memberikan peringatan dini ketika tanda-tanda kelelahan terdeteksi dan memicu alarm prioritas tinggi ketika terindikasi microsleep. Berdasarkan rancangan yang disampaikan tim peneliti, sistem menargetkan waktu respons di bawah dua detik. Pemantauan juga dirancang terintegrasi melalui dashboard berbasis cloud agar kondisi dan riwayat kelelahan operator dapat dipantau secara terpusat.

Dr. Ir. I Putu Agus Eka Darma Udayana mengatakan, dukungan hibah BRIN menjadi kesempatan untuk mendorong hasil penelitian agar dapat berkembang menjadi teknologi terapan yang diuji langsung di lingkungan kerja. KSOP Celukan Bawang menjadi lokasi sasaran penerapan awal sebelum potensi pengembangan ke fasilitas pelabuhan dan pusat kendali lalu lintas laut lainnya.

“Melalui dukungan hibah ini, kami berharap riset ini naik dari tahap penelitian menjadi produk terapan yang teruji di lingkungan kerja nyata. Dari KSOP Celukan Bawang, harapannya sistem ini bisa diadopsi KSOP lain, pelabuhan besar, dan pusat kendali lalu lintas laut, yang sama-sama memiliki pekerjaan berisiko tinggi. Ke depan kami ingin mengembangkannya ke arsitektur yang lebih ringan di perangkat sendiri (edge AI) dan menghubungkannya dengan ekosistem pelabuhan pintar nasional,” ungkapnya.

Menurutnya, pemanfaatan kecerdasan buatan dalam dunia kerja seharusnya tidak hanya berorientasi pada peningkatan efisiensi, tetapi juga memberikan perlindungan kepada manusia. Teknologi diharapkan menjadi pendukung bagi pekerja, terutama mereka yang menjalankan tugas dengan tingkat kewaspadaan tinggi dan memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan orang lain.

“Kecerdasan buatan tidak hadir untuk menggantikan pekerja, melainkan menjadi asisten cerdas yang menjaga kesehatan dan keselamatan mereka. Operator yang bekerja berjam-jam, terutama di malam hari, berhak mendapat perlindungan, dan teknologi ini membantu mengenali kelelahan mereka sebelum berubah menjadi risiko bagi diri sendiri maupun bagi keselamatan pelayaran. Dengan begitu, kolaborasi antara manusia dan teknologi cerdas dapat menopang keselamatan dan keberlanjutan sektor maritim Indonesia, melalui teknologi buatan dalam negeri,” tambahnya.

Riset DFA-Net juga membuka peluang pengembangan teknologi keselamatan kerja yang lebih adaptif, dengan menggabungkan kemampuan manusia dan sistem cerdas. Meski demikian, efektivitas sistem tetap perlu dibuktikan melalui pengujian di lingkungan operasional, termasuk akurasi deteksi, keandalan perangkat, serta kesesuaiannya dengan prosedur keselamatan yang berlaku.

Keberhasilan memperoleh hibah BRIN ini sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghasilkan penelitian yang berangkat dari persoalan nyata di masyarakat dan dunia industri. Melalui riset tersebut, INSTIKI diharapkan dapat terus berkontribusi dalam pengembangan teknologi yang tidak hanya bernilai akademis, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat bagi pekerja, operator pelabuhan, dan keselamatan transportasi laut Indonesia.

Bagi sektor maritim, pengembangan sistem pendeteksi kelelahan menjadi salah satu peluang untuk memperkuat pendekatan pencegahan risiko. Apabila berhasil diuji dan diterapkan secara efektif, inovasi ini berpotensi membantu operator menjaga kewaspadaan, mendukung pengawasan keselamatan kerja, dan melengkapi prosedur keselamatan pelayaran yang sudah berjalan.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share on Social Media