BULELENG – Tumpukan koran bekas yang bagi sebagian orang hanya menjadi barang tak terpakai, justru menjadi awal perjalanan Luh Rusmiati membangun usaha kerajinan. Dari bahan sederhana tersebut, perempuan asal Banjar Dinas Ceblong, Desa Sudaji, Buleleng, ini mampu menciptakan berbagai produk bernilai ekonomi.
Sejak 2016, Rusmiati secara mandiri mulai belajar mengolah kertas bekas menjadi kerajinan. Tanpa latar belakang pendidikan khusus di bidang kerajinan, ia mengembangkan keterampilannya melalui berbagai percobaan hingga menghasilkan produk yang diminati masyarakat.
Ide tersebut bermula ketika ia melihat tumpukan koran bekas di rumah saudaranya. Saat itu, Rusmiati mencoba memanfaatkannya untuk membuat keranjang sederhana sebagai tempat air mineral.
Tidak disangka, hasil karyanya justru menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Ada yang tertarik dan meminta dibuatkan produk serupa hingga kemudian permintaan berkembang ke berbagai jenis kerajinan.
“Awalnya saya melihat tumpukan koran di rumah saudara. Saya ingin membuat keranjang untuk tempat air mineral. Setelah ada saudara yang tertarik dan meminta dibuatkan, akhirnya berkembang dan ada yang meminta dibuatkan produk lain seperti bokor,” tuturnya saat ditemui di galerinya, Jumat (2/10).
Dari percobaan sederhana tersebut, usaha yang kemudian diberi nama Gegaen Lima Craft perlahan berkembang. Rusmiati kini menghasilkan beragam produk, mulai dari anyaman, tempat pensil, nampan, tatakan gelas, gantungan kunci hingga perabotan seperti meja dan kursi.
Bahan bakunya pun berasal dari berbagai jenis kertas. Untuk koran bekas, sebagian diperoleh dengan cara membeli, sedangkan jenis kertas lainnya banyak berasal dari donasi teman-temannya.
Menariknya, hubungan dengan para penyumbang kertas tidak selalu dilakukan dalam bentuk transaksi. Rusmiati juga menerapkan sistem barter. Kertas bekas yang diberikan kemudian diolah menjadi produk kerajinan, lalu sebagian hasilnya dikembalikan kepada penyumbang dalam bentuk produk seperti tempat pensil atau nampan kecil.
“Kalau koran biasanya saya beli. Kalau kertas-kertas lainnya banyak yang dapat dari donasi teman. Kadang saya barter, mereka memberikan kertas, kemudian saya kasih tempat pensil atau nampan kecil,” jelasnya.
Ketekunan Rusmiati mengembangkan kerajinan berbahan kertas bekas perlahan membuka pasar yang lebih luas. Produknya tidak hanya dikenal di lingkungan sekitar, tetapi juga pernah menjangkau konsumen di luar negeri.
Pada 2017, Rusmiati sempat bekerja sama dengan sebuah art shop di Denpasar. Produk berupa tatakan gelas dan nampan bahkan dibawa hingga ke Jepang dan Afrika.
Peluang pemasaran juga datang dari wisatawan yang menginap di sejumlah homestay di sekitar tempat usahanya. Sebagian wisatawan tertarik membeli kerajinannya sebagai suvenir untuk dibawa pulang ke negara masing-masing.
Dari usaha tersebut, Rusmiati memperkirakan omzet yang diperoleh dapat mencapai sekitar Rp5 juta dalam satu bulan. Namun, jumlah tersebut tidak selalu sama karena bergantung pada pesanan dan penjualan.
Harga produk yang dihasilkan juga bervariasi. Gantungan kunci, misalnya, dijual mulai sekitar Rp5 ribu per buah. Sementara produk berukuran lebih besar seperti meja dan kursi dipasarkan dalam bentuk set dengan harga yang disesuaikan berdasarkan jenis dan ukurannya.
Bagi Rusmiati, perjalanan Gegaen Lima Craft tidak semata-mata mengenai pendapatan. Ia ingin usaha tersebut terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat di sekitarnya.
“Harapannya usaha ini terus berkembang. Saya juga berharap ada orang-orang di sekitar yang mau ikut bersama-sama mengembangkan usaha ini, sehingga bisa memberikan manfaat lebih bagi orang-orang di sekitar,” ungkapnya.
Perjalanan usaha Rusmiati juga mendapat perhatian dari pemerintah. Ia beberapa kali memperoleh kesempatan mengikuti pameran dan kegiatan promosi produk lokal, di antaranya Lovina Festival, Buleleng Festival serta kegiatan yang digelar di tingkat kecamatan.
Menurut Rusmiati, kesempatan mengikuti pameran memberikan ruang untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat yang lebih luas sekaligus membuka peluang pemasaran.
Sementara itu, Perbekel Desa Sudaji, I Made Ngurah Fajar Kurniawan, mengapresiasi semangat para pelaku UMKM di desanya, termasuk Rusmiati yang mampu mengolah limbah kertas menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi.
Menurut Fajar, kreativitas tersebut memiliki peluang untuk terus dikembangkan sehingga produk UMKM Desa Sudaji tidak hanya menyasar pasar lokal, tetapi juga dapat menjangkau pasar nasional hingga internasional.
“Pemerintah Desa Sudaji sangat mendukung dan mengapresiasi semangat UMKM kami. Salah satunya pengelolaan limbah kertas yang diolah menjadi sebuah karya seni yang nantinya bisa dipasarkan di seluruh Nusantara maupun dunia,” ujarnya.
Fajar mengatakan, pemerintah desa juga berupaya membantu mengantisipasi berbagai kendala yang dihadapi pelaku UMKM, terutama terkait permodalan, pemasaran dan kebutuhan pengembangan usaha.
Dukungan tersebut dilakukan melalui pemberian motivasi dan pembinaan, sekaligus membangun hubungan dengan berbagai pemangku kepentingan yang dinilai dapat membantu pengembangan UMKM di Desa Sudaji.
Ia berharap dukungan terhadap pelaku UMKM semakin kuat, baik dari pemerintah maupun berbagai pihak lainnya. Dengan demikian, para pelaku usaha memiliki ruang yang lebih besar untuk mengembangkan produk, memperluas pasar, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kisah Rusmiati menunjukkan bahwa peluang ekonomi dapat tumbuh dari hal sederhana. Di tangan yang kreatif, kertas bekas bukan sekadar limbah, tetapi dapat diubah menjadi produk bernilai jual sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat di sekitarnya.


















