BULELENG – Di tengah semakin beragamnya pilihan pekerjaan bagi generasi muda, kerajinan saab mute di Desa Nagasepaha, Kecamatan Buleleng, masih bertahan. Bagi sebagian warga, kerajinan berbahan daun lontar, kain beludru, dan mute itu bukan hanya perlengkapan adat, tetapi juga menjadi sumber penghasilan tambahan sekaligus warisan keterampilan yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Namun, keberadaan pengrajin saab mute kini menghadapi tantangan regenerasi. Jika pada era 1990-an hampir setiap perempuan di Desa Nagasepaha memiliki keterampilan membuat saab, jumlah tersebut mulai berkurang sejak memasuki tahun 2000-an.
Perbekel Desa Nagasepaha I Wayan Sumeken, S.Sos., mengatakan perubahan tersebut tidak terlepas dari meningkatnya akses pendidikan bagi generasi muda. Jika dahulu sebagian besar masyarakat hanya menempuh pendidikan hingga tingkat SMP, kini semakin banyak anak-anak Nagasepaha melanjutkan pendidikan hingga SMA dan perguruan tinggi.
Kondisi itu membuat pilihan pekerjaan generasi muda semakin beragam. Akibatnya, tidak banyak anak muda yang memilih meneruskan keterampilan membuat saab mute dari orang tua mereka.
“Pada tahun 1990-an, hampir setiap perempuan di Desa Nagasepaha bisa membuat kerajinan saab. Selain mengisi waktu, hasilnya juga bisa membantu menambah ekonomi keluarga,” ungkap Sumeken saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (30/9).
Meski mengalami pergeseran generasi, sejumlah warga masih mempertahankan keterampilan tersebut. Sebagian besar merupakan ibu rumah tangga atau warga yang belum memiliki pekerjaan tetap. Pembuatan saab mute dapat dilakukan dari rumah setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga sehingga tetap memungkinkan mereka memperoleh tambahan pendapatan.
“Yang masih bertahan biasanya mereka yang belum memiliki pekerjaan tetap. Setelah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, mereka membuat saab mute untuk menambah pendapatan keluarga,” imbuhnya.
Dari Kerajinan Adat Menjadi Potensi Ekonomi
Bagi Pemerintah Desa Nagasepaha, saab mute memiliki nilai lebih dari sekadar produk kerajinan. Keterampilan tersebut merupakan bagian dari pengetahuan masyarakat yang telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi salah satu identitas desa.
“Ini ikon kita. Kami ingin saab mute bisa menjadi salah satu ikon Desa Nagasepaha dan terus dikembangkan sebagai warisan budaya tak benda,” ujar Sumeken.
Menurutnya, pemanfaatan saab mute juga mulai berkembang. Jika sebelumnya lebih banyak digunakan untuk kebutuhan adat dan keagamaan Hindu, kini kerajinan tersebut dapat dikembangkan menjadi berbagai produk, seperti hiasan rumah, dekorasi dinding hingga perlengkapan seperti tedung saji.
Pengrajin juga mulai melakukan inovasi pada motif dan desain untuk menyesuaikan kebutuhan pasar. Meski demikian, ciri khas saab mute Nagasepaha tetap dipertahankan.
“Motifnya ada yang dikombinasikan oleh pengrajin untuk menyesuaikan kebutuhan pasar. Harganya juga relatif terjangkau, mulai Rp25 ribu hingga ratusan ribu rupiah, tergantung motif dan permintaan,” jelasnya.
Pengembangan kerajinan tersebut turut mendapat dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah Desa Nagasepaha menjalin kerja sama dengan organisasi perangkat daerah (OPD), perguruan tinggi, serta pihak lain yang memiliki perhatian terhadap pengembangan kerajinan lokal.
Dukungan dilakukan melalui kajian, pelatihan, praktik pembuatan kerajinan, bantuan bahan hingga pendampingan dalam pengelolaan usaha. Sejumlah perguruan tinggi juga pernah melakukan penelitian terhadap saab mute karena dinilai memiliki keunikan dan peluang untuk dikembangkan menjadi berbagai produk.
Bertahan Sambil Menambah Penghasilan
Salah satu pengrajin yang masih menekuni pembuatan saab mute adalah Kadek Puniantari. Ia mulai membuat kerajinan tersebut sejak 2008 ketika masih menjadi ibu rumah tangga.
Saat itu, Puniantari belajar membuat saab mute sambil mengasuh anak. Keterampilan yang awalnya dipelajari untuk mengisi waktu kemudian berkembang menjadi kegiatan yang bisa memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga.
“Saya mulai membuat saab mute sekitar 2008. Waktu itu sebagai ibu rumah tangga, saya belajar membuat saab mute sambil menjaga anak,” ujarnya.
Dalam proses pembuatannya, Puniantari menggunakan daun lontar sebagai bahan utama yang kemudian dipadukan dengan kain beludru dan mute. Dalam sehari, ia mampu menyelesaikan sekitar dua hingga tiga saab, tergantung tingkat kerumitan motif dan jumlah pesanan.
Semakin rumit motif yang dibuat, semakin lama waktu pengerjaannya. Di sisi lain, pengrajin juga menghadapi persoalan kenaikan harga bahan baku yang dapat memengaruhi keuntungan.
“Kendalanya bahan baku karena harganya terus naik, sementara harga kerajinan masih tetap. Ada persaingan dengan produk dari tempat lain sehingga harga harus menyesuaikan,” ungkapnya.
Meski demikian, Puniantari berharap keberadaan saab mute Nagasepaha semakin dikenal masyarakat. Menurutnya, semakin luas pasar yang terbentuk, semakin besar pula peluang pengrajin untuk mempertahankan keterampilan tersebut.
Harapan itu juga menjadi bagian dari upaya Desa Nagasepaha menjaga saab mute agar tidak berhenti sebagai produk masa lalu. Di tengah perubahan pola pendidikan, pekerjaan dan gaya hidup masyarakat, kerajinan tersebut diharapkan tetap memiliki ruang untuk berkembang.
Bagi masyarakat Nagasepaha, saab mute pada akhirnya bukan sekadar kerajinan untuk memenuhi kebutuhan adat atau menambah pendapatan keluarga. Di dalamnya terdapat pengetahuan, keterampilan dan identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Menjaga keberadaannya berarti tidak hanya mempertahankan sebuah produk, tetapi juga memastikan keterampilan masyarakat Nagasepaha tetap hidup di tengah perubahan zaman.


















