SINGASANA– Di tengah meningkatnya persoalan sampah dan kebutuhan akan pangan sehat, SD Negeri 5 Gubug menghadirkan solusi sederhana namun berdampak nyata. Melalui inovasi pupuk organik cair bernama POCARIS, sekolah ini berhasil mengubah limbah organik menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi lingkungan dan ketahanan pangan sekolah.
Inovasi POCARIS merupakan bagian dari program TEBAS LESTARI (Teba Modern, Bank Sampah, Alat Komposter, dan Sirkular 3R), yang menitikberatkan pada pengelolaan sampah berbasis edukasi dan praktik langsung. Program ini tidak hanya menyasar kebersihan lingkungan sekolah, tetapi juga mendorong kemandirian pangan melalui pemanfaatan hasil olahan sampah.
Proses pembuatan POCARIS dilakukan dengan memanfaatkan sampah organik seperti sisa makanan, sayuran, dan daun kering. Sampah tersebut dikumpulkan dan dipilah oleh siswa, kemudian dimasukkan ke dalam tong komposter. Selanjutnya ditambahkan air dan aktivator seperti EM4 atau bahan alami sejenis, sebelum difermentasi selama 1 hingga 3 bulan. Hasil akhirnya berupa cairan lindi yang dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair.
Kegiatan ini melibatkan siswa secara aktif dengan pendampingan guru, sehingga menjadi bagian dari pembelajaran kontekstual berbasis lingkungan. Melalui praktik langsung, siswa tidak hanya memahami teori pengelolaan sampah, tetapi juga merasakan manfaat nyata dari hasil olahan tersebut.
POCARIS digunakan untuk menyuburkan tanaman di kebun sekolah, membantu meningkatkan pertumbuhan tanaman secara alami, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia. Dengan biaya yang relatif rendah dan proses yang mudah, inovasi ini menjadi solusi berkelanjutan yang dapat diterapkan secara luas.
Kepala SD Negeri 5 Gubug, Ni Nyoman Dian Trisna Dewi, S.Pd, menegaskan bahwa inovasi ini membawa dampak signifikan bagi lingkungan sekolah.
“Melalui inovasi ini, SD Negeri 5 Gubug tidak hanya mampu mengurangi volume sampah, tetapi juga memanfaatkannya menjadi sumber daya yang berguna. POCARIS digunakan untuk menyuburkan tanaman di kebun sekolah, sehingga mendukung program ketahanan pangan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Lebih dari sekadar program lingkungan, POCARIS menjadi bukti bahwa edukasi dapat berjalan seiring dengan aksi nyata. Sekolah tidak hanya mencetak siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga peduli terhadap lingkungan dan mampu berkontribusi bagi keberlanjutan.
Dengan inovasi ini, SD Negeri 5 Gubug menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil, mengolah sampah menjadi berkah bagi kehidupan. (rls/red)















